Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 25 Maret 2011

TOTAL QUALITY MANAGEMENT


IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT
SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN SEKOLAH DASAR UNGGULAN
Ditulis oleh : Nanang Heryanto, S.Pd.I
(Ketua KKG Gugus IV Lakbok)

Derasnya arus globalisasi akan membawa dampak kepada berbagai aspek kehidupan di sekitar kita, di antaranya dalam bidang sosial, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Seiring dengan derasnya arus globalisasi tersebut, negara kita dituntut untuk memiliki ketangguhan dan keunggulan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu, hal tersebut secara langsung berimbas pula pada dunia pendidikan.Untuk dapat memperlihatkan eksistensi kita sebagai bangsa yang besar, kita membutuhkan lahirnya generasi penerus bangsa yang memiliki SDM yang unggul. Dengan adanya kebutuhan akan SDM yang berkualitas, masyarakat mengharapkan adanya institusi pendidikan yang mampu mewujudkan generasi-generasi baru yang memiliki daya saing dan berkualitas tinggi. Harapan-harapan masyarakat tersebut selayaknya mampu menjadi motivasi bagi para stake holder pendidikan untuk memaksimalkan pelayanan dalam bidang pendidikan.
Pendidikan sebagai salah satu upaya untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan kualitas hidup manusia merupakan sebuah sistem yang dinamis dan penuh tantangan akan perubahan. Dalam realitas di lapangan, menunjukkan bahwa pendidikan harus mampu beradaptasi dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Jika pendidikan tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman, maka yang dihasilkan adalah produk-produk pendidikan yang tidak mampu berkompetisi dalam persaingan global. Oleh karena itu pendidikan hendaknya senantiasa mengikuti dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Sekolah Dasar sebagai salah satu institusi pendidikan memiliki peranan yang cukup signifikan dalam menentukan kualitas SDM Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. Sebagai bahan refleksi patut kita ungkap pendapat Nanang Fatah ( 2003 : 1 ) yang mengemukakan bahwa : “...sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid, melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan, oleh karena itu, sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan.
Berdasarkan pendapat di atas, sekolah memerlukan sebuah sistem manajerial yang tertata dengan baik. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya sistem pengelolaan yang baik, diharapkan sekolah akan mampu memberdayakan SDM pendidikan agar bekerja secara profesional dan optimal, sehingga menghasilkan out put pendidikan yang bermutu dan kompetitif, sehingga akan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Dalam kenyataan yang terjadi di lapangan, masih terdapat beberapa sekolah yang belum menerapkan manajemen yang sistematis dan terorganisir dengan baik, sehingga dapat mengakibatkan tenaga pendidik dan kependidikan yang dimiliki kurang mampu mengoptimalisasi kinerja yang dimilikinya. Selain itu, beberapa sekolah yang berperan sebagai sebuah lembaga pendidikan terkesan masih kurang memberdayakan masyarakat sebagai salah satu komponen pendidikan. Akibat dari adanya kelemahan dalam manajemen sekolah tersebut adalah sistem pendidikan yang kurang terencana dan pada akhirnya akan menghasilkan out put pendidikan yang kurang memenuhi keinginan masyarakat.
Kondisi masyarakat kita dewasa ini mulai menunjukkan indikasi adanya harapan besar terhadap dunia pendidikan. Masyarakat yang hidup dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat sangat mengharapkan adanya sebuah lembaga pendidikan yang mampu memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar anak-anak didik menjadi generasi yang berkualitas. Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pentingnya pendidikan menuntut para stake holder pendidikan untuk merealisasikan keinginan masyarakat dengan cara menciptakan sebuah sistem pendidikan yang mampu memenuhi tuntutan masyarakat tersebut.
Untuk mewujudkan lembaga sekolah yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, maka muncullah gagasan-gagasan penciptaan sekolah unggulan, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar. SD unggulan merupakan salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pendidikan masyarakat. Untuk mewujudkan sekolah unggulan diperlukan sistem manajerial yang kuat. Dengan demikian,dibutuhkan seorang pimpinan yang memiliki kompetensi dalam bidang manajerial. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan Kepala Sekolah yang mampu berperan sebagai manajer yang baik sehingga dapat mengelola sekolah menjadi sebuah institusi pendidikan yang memiliki daya kompetisi yang tinggi.
Dalam dunia pendidikan dasar di Indonesia, beberapa tahun yang lalu telah disosialisasikan Sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dengan diterapkannya sistem MBS tersebut, sekolah diharapkan mampu mewujudkan pelayanan yang maksimal dalam bidang pendidikan dengan mengoptimalisasi sumber daya pendidikan yang dimiliki sekolah. Dengan penerapan MBS di tingkat SD, sekolah mempunyai kewenangan penuh dalam penentuan visi, misi, tujuan, dan keputusan yang berhubungan dengan kemajuan sekolah yang bersangkutan.
Akan tetapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa tidak semua sekolah mampu menerapkan MBS dengan baik. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor kemampuan kepala sekolah sebagai seorang manajer maupun faktor guru dan masyarakat sebagai bagian dari sebuah sistem pendidikan. Menyikapi hal tersebut diperlukan inovasi dan implementasi sistem manajerial yang mampu mewujudkan harapan akan terciptanya SD yang unggul. Salah satu sistem manajemen yang sedang dikembangkan dan banyak diterapkan di berbagai bidang adalah sistem Total Quality Management (TQM). Sistem ini lebih sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki keinginan untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan kepada konsumen. Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, TQM dapat pula diimplementasikan di Sekolah Dasar agar masyarakat sebagai 'konsumen' pendidikan memiliki kepuasan atas pelayanan yang diberikan oleh sekolah.
Total Quality Management (TQM) yang dikenal dengan istilah Manajemen Mutu Terpadu pada awalnya merupakan sistem manajemen yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika sejak tahun 1970. Tokoh penggagas TQM, W.Edwards Deming telah menerapkan sistem ini dan berhasil mengatasi permasalahan di beberapa perusahaan dan mampu meningkatkan mutu pelayanan dari perusahaan kepada para konsumen (customer) (Gaspersz, 1970). Melihat keberhasilan TQM dalam meningkatkan kinerja perusahaan serta mampu meningkatkan pula mutu layanan terhadap konsumen (masyarakat), maka TQM diterapkan pula dalam bidang pemerintahan, misalnya TQM pernah diterapkan di Angkatan Udara Amerika Serikat (Creech, 1996).
Sutopo,dkk (2003 : 19) mendefinisikan TQM sebagai sebuah paradigma baru dalam manajemen yang berusaha memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara berkesinambungan atas mutu barang, jasa, manusia, dan lingkungan organisasi. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa TQM merupakan sebuah sistem manajemen yang diterapkan untuk meningkatkan daya saing sebuah institusi sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan sehingga mencapai sebuah Pelayanan Prima ( Excellent Services ). Maksimalisasi organisasi tersebut tidak dapat dilakukan secara radikal, akan tetapi memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan keadaan sehingga komponen-komponen yang terlibat di dalam sebuah institusi dapat mengikuti sistem tersebut dengan baik.
Penerapan TQM dalam berbagai bidang pada dasarnya adalah untuk menciptakan sebuah peningkatan dan perubahan dalam produktivitas kinerja personal. Dalam hal ini, Nanang Fattah ( 2004 : 120 ) menyatakan bahwa TQM adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas usaha, baik secara kualitas maupun secara kuantitas.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa TQM merupakan suatu sistem manajemen yang berorientasi kepada perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan dari pihak penyedia barang atau jasa kepada pihak pemakai (konsumen). Tujuan utama dari TQM adalah untuk meningkatkan mutu secara total.
Untuk memaksimalkan penerapan TQM, perlu diperhatikan beberapa aspek penunjang efektivitas TQM di suatu lembaga/institusi, termasuk dalam institusi pendidikan. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam implementasi TQM dikemukakan oleh Tjiptono (dalam Sutopo,dkk, 2003 : 19-20) sebagai berikut : berfokus pada pelanggan, obsesi terhadap mutu, pendekatan ilmiah dalam merancang keputusan dan pekerjaan, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan sistem secara berkesinambungan, dan pendidikan dan pelatihan.
Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam penerapan TQM adalah aspek fokus pelanggan. Dalam hal ini, setiap lembaga harus mewujudkan pelayanan yang bertujuan utama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Pelanggan merupakan salah satu bagian dari sebuah sistem yang berperan sebagai pengawas (controller )terhadap produk barang atau jasa yang dihasilkan. Dalam penerapan TQM juga perlu adanya obsesi untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan, baik barang maupun jasa. Dengan adanya obsesi ini, diharapkan motivasi kerja para stake holder akan meningkat. Jika peningkatan mutu pelayanan ditingkatkan, tentu saja akan berpengaruh terhadap arah kebijakan dan pelaksanaan suatu institusi.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian dalam penerapan TQM adalah adanya pendekatan yang bersifat ilmiah. Pendekatan ilmiah merupakan proses untuk merancang pekerjaan maupun dalam membuat keputusan dan pemecahan masalah yang ditemui dalam pekerjaan tersebut. Dalam hal ini pembuat keputusan di suatu lembaga hendaknya memperhatikan faktor ilmiah, dengan kata lain keputusan yang diambil harus bersikap logis dan rasional. Untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan TQM, perlu juga diperhatikan adanya komitmen jangka panjang untuk melakukan perubahan budaya kerja menuju ke arah yang lebih baik. Dengan adanya perubahan budaya kerja ini tentunya akan berimbas kepada perubahan pada hasil kerja atau produk yang dihasilkan.
Kerja sama tim ( team building ) yang kuat juga turut menentukan keberhasilan penerapan TQM. Hal ini merupakan aspek fundamental yang harus terpenuhi dalam sebuah sistem manajemen pekerjaan. Kerja sama yang baik harus selalu dijalin, baik dengan pihak internal lembaga maupun pihak eksternal termasuk pengguna jasa dalam bidang pendidikan. Hal lain yang menunjang keberhasilan TQM adalah adanya perbaikan sistem secara berkesinambungan. Hal ini memerlukan waktu dan proses yang panjang dan sistematis. Dengan adanya perubahan sistem, diharapkan akan muncul pula perubahan pada kinerja personal yang pada akhirnya akan menuju perbaikan mutu pelayanan.
Hal terakhir yang perlu untuk diterapkan dalam sebuah institusi adalah adanya pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan bagi para pekerja merupakan upaya untuk memaksimalkan kinerja personal. Dengan dilakukannya pendidikan dan pelatihan akan membawa peningkatan mutu kerja. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mengikuti seminar, pelatihan, lokakarya, maupun mengikuti pendidikan dalam jalur formal. Lembaga yang baik hendaknya memfasilitasi peningkatan pendidikan pekerja yang berada dalam lembaga tersebut.
Berdasarkan aspek-aspek TQM yang telah diuraikan sebelumnya, maka TQM dapat diterapkan di Sekolah Dasar sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat. Karena SD merupakan institusi pendidikan, maka penerapan TQM di SD memiliki karakteristik yang berbeda dengan institusi lainnya.
Langkah-langkah implementasi TQM di SD dapat diuraikan sebagai berikut :
1.    Pelayanan pendidikan di Sekolah Dasar hendaknya memperhatikan kondisi lingkungan sekolah, sehingga pendidikan yang dilaksanakan memenuhi harapan masyarakat. Dalam hal ini, pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan mengacu pada pengembangan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dan kondisi masyarakat sekitar sekolah. Sebagai contoh, untuk wilayah Pangandaran yang memiliki tempat wisata, sebaiknya pengembangan kurikulum berorientasi pada kebutuhan kepariwisataan. Hal tersebut akan berbeda dengan daerah lain yang lingkungannya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani yang lebih cocok untuk diadakan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada dunia pertanian. Dengan pengembangan kurikulum berdasarkan karakteristik lingkungan, diharapkan akan mampu menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan berakar pada kebutuhan masyarakat.
2.    Pelaksanaan pendidikan di SD harus memiliki visi dan misi yang jelas dan terarah agar para pendidik mempunyai obsesi untuk selalu meningkatkan mutu pendidikan bagi kepentingan dan kemajuan anak didik. Dengan adanya obsesi terhadap peningkatan mutu pembelajaran ini, diharapkan tidak ada lagi pendidik yang menjalankan tugas sekedar untuk memenuhi kewajiban dan tidak berusaha mengadakan pembaharuan yang berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran.
3.    Pengambilan keputusan yang mencakup pendidikan dilakukan secara ilmiah. Proses pengambilan keputusan ini hendaknya didasari oleh tingkat kepentingan keputusan dan target dasar yang harus dicapai dalam pelaksanaan keputusan tersebut. Untuk dapat mengambil keputusan secara ilmiah, diperlukan manajer yang menguasai sistem pengelolaan sekolah yang baik.
4.    Sekolah hendaknya mempunyai komitmen jangka panjang untuk melakukan perubahan budaya kerja. Dengan perubahan budaya kerja para tenaga pendidik, akan menghasilkan proses pembelajaran yang selalu baru dan dapat menarik minat serta perhatian siswa. Dengan selalu diadakannya perubahan kinerja, akan berimbas pula pada peningkatan mutu out put pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah.
5.    Para tenaga pendidik di Sekolah Dasar hendaknya memiliki semangat kerja sama yang kuat. Dengan adanya kerja sama yang kuat antar personil dan antara lembaga dengan masyarakat, akan menciptakan suatu sinergi kemampuan dan terjadi interaksi positif yang dapat menghasilkan keputusan dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif. Kerja sama yang baik dalam lingkungan sekolah dapat terwujud jika diatur dengan baik oleh Kepala Sekolah yang memiliki figur sebagai pemersatu dan akomodatif terhadap masukan maupun kritik dari personal pendidikan yang lain maupun masyarakat. Selain itu, rasa kebersamaan dan saling melengkapi antara satu guru dengan guru yang lain juga turut berperan dalam menciptakan kerja sama yang kokoh.
6.    Sekolah hendaknya senantiasa melakukan perbaikan sistem kerja. Dengan perubahan yang sistematis dan terarah, sekolah akan bergerak dinamis dan selalu mengikuti perkembangan tuntutan zaman, sehingga produk pendidikan yang dihasilkan pun akan selalu memenuhi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu lembaga pendidikan tidak melakukan perubahan sistem secara berkesinambungan, maka akan berakibat statisnya pelaksanaan pembelajaran dan produk yang dihasilkan pun tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
7.    Sekolah hendaknya memfasilitasi guru maupun kepala sekolah untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan seperti seminar pendidikan, loka karya, diklat pengembangan profesi, dan peningkatan kualifikasi pendidikan. Dengan tersedianya kesempatan dan fasilitas untuk meningkatkan kemampuan melalui pendidikan dan pelatihan, maka guru maupun kepala sekolah akan mendapatkan akses informasi terbaru dalam dunia pendidikan yang dapat diterapkan di sekolah yang bersangkutan.
Ketujuh langkah implementasi TQM sebagai sebuah sistem manajemen tersebut minimal akan memberikan wajah baru dunia pendidikan kita. Karena bagaimanapun juga maju mundurnya sebuah sistem pendidikan sangat bergantung kepada komitmen dan konsistensi pihak-pihak yang menjadi bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Jika komitmen dan konsistensi terhadap profesi telah terjaga dengan baik, maka harapan akan adanya sekolah unggulan yang mampu mencetak kader pembangunan bangsa akan dapat terealisasikan.



REFERENSI

Fattah, Nanang. (2003). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.
Rukmana, Ayep. (2005). Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru, Bhineka Karya Winaya edisi 227. Bandung.
Sutopo, dkk. (2006). Pelayanan Prima. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Tjiptono, B. Fandy. (1997). Total Quality Service. Yogyakarta : Andi Offset.
Umaedi. (2000). Pengawasan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kerangka Otonomi Daerah. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.








Picture0056.jpg

BIODATA PENULIS

Nama            :    Nanang Heryanto, S.Pd.I
Unit Kerja    :    SD Negeri 2 Sidaharja
                          UPTD Pendidikan Kec.Lakbok
Organisasi     :    KKG Gugus IV Lakbok
Jabatan Org. :    Ketua
No.HP          :    081323541145
E-Mail          :    enhalien@gmail.com
Blog              :    http://nanangheryanto.blogspot.com
                          http://kkg4lakbok.blogspot.com

 

 






MY SPIRIT AND MOTIVATION


My daughter is my spirit and motivation for survive on my way and my destination... Thanks God You give me a little daughter who can lightening my darkness... God, You so GREAT....




ALIKA FADYA HAYYA HERYANTO PUTRI

IT'S ME...AND MY IDEOLOGY !!!!


MY PRIVACY



Aku tetaplah aku, bukan kau...dia..atau mereka
Biarkan kuretas jalanku...
Kucahayai jejak langkahku...
Ku takkan berhenti mencari dan mencari....
Adanya kebenaran dan kejujuran sejati....

Kau boleh anggap aku kecil, karena memang kekerdilanku...
Kau dapat remehkan aku, karena aku memang bukan siapa-siapa...
Tapi ingatkah kau, sahabat...
Bila yang diam engkau anggap tiada,
Tunggulah keterkejutanmu oleh kediamannya.
Bila yang kecil engkau remehkan,
Tunggulah keterpanaanmu akan kebesarannya.
Bila yang lemah engkau perdayakan,
Maka tunggulah ketertindasanmu oleh kekuatannya.

Renungkan, pahami, lakukan, dan tunggulah
Perubahan akan datang . . .

(M.Enha “the reflector”)

Jumat, 21 Januari 2011

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


 Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Materi Pokok Menentukan Pokok Pikiran Paragraf

Oleh : Nanang Heryanto, S.Pd.I

A.    Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Proses belajar secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu (Depdiknas, 2007:17). Sedangkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 20 terdapat definisi pembelajaran secara umum, “ Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar di suatu lingkungan belajar“. Berdasarkan dua definisi di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan proses penggalian ilmu pengetahuan melalui adanya hubungan antara pendidik dan siswa yang terjadi dalam suatu lingkungan belajar.
Secara khusus, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa, baik lisan maupun tulis ( Resmini, Novi,dkk, 2006:49). Kemampuan berbahasa tersebut secara khusus kemahiran berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pembelajaran bahasa Indonesia memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik agar mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis sesuai dengan kaidah ketatabahasaan Indonesia.
Pelaksanaan pembelajaran memiliki acuan sebagai dasar pengembangan sebuah mata pelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) dilaksanakan dengan mengacu pada landasan pembelajaran berupa (1) kurikulum sebagai landasan formal, (2) sejumlah wawasan teoretik konseptual sebagai landasan filosofis ideal, dan (3) buku teks bahasa Indonesia sebagai landasan operasional (Resmini, N, dkk, 2006 : 1).
Sebagaimana pelajaran yang lain, pembelajaran bahasa Indonesia di SD memiliki fungsi yang cukup penting bagi siswa. Adapun fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia di SD menurut Novi Resmini,dkk ( 2006 : 35 ) yaitu :
a.       Sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa ;
b.      Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya ;
c.       Sarana peningkatan pengetahuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni ;
d.      Sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks untuk berbagai keperluan dan dan berbagai masalah ; dan
e.       Sarana pengembangan kemampuan intelektual (penalaran).

Selain fungsi yang telah ditetapkan, diperlukan pula adanya tujuan secara umum pembelajaran agar dalam pengembangan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran memiliki alur yang jelas dan terarah. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD sesuai dengan Kurikulum 2006 bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
a.       Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis ;
b.      Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara ;
c.       Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan ;
d.      Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial ;
e.       Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa ; dan
f.       Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
(BSNP, 2007:6)

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat lima aspek pembelajaran, yaitu aspek mendengarkan, membaca, menulis, berbicara, dan apresiasi sastra. Kelima aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain. Dalam pembelajarannya kelima aspek tersebut tidak diajarkan secara terpisah, melainkan dalam satu pembelajaran bisa mencakup lebih dari satu aspek. Namun dalam penilaiannya, kelima aspek tersebut terpisah ( Depdiknas, 2005 : 57 ).

B.  Pokok Pikiran Paragraf
Salah satu aspek pembelajaran bahasa Indonesia adalah aspek membaca. Aspek ini memiliki kaitan yang erat dengan aspek yang lain seperti menulis, mendengarkan, dan membaca. Keterampilan membaca sangat penting untuk dikuasai dengan baik oleh siswa, karena dengan membaca dan memahami isi bacaan tersebut siswa dapat menemukan informasi yang terkandung di dalam bacaan.
Dari beberapa keterampilan membaca yang perlu dikuasai oleh siswa kelas IV SD adalah menentukan pokok pikiran paragraf dalam  sebuah bacaan. Pokok pikiran dapat diartikan sebagai sebuah ide utama yang dikembangkan dalam satu paragraf.
Pokok pikiran adalah ide utama dari sebuah paragraf. Pokok pikiran dalam suatu paragraf biasanya terdapat di awal paragraf, di akhir, atau di awal dan di akhir paragraf. Pokok pikiran pada umumnya dijelaskan dengan kalimat-kalimat penjelas sebagai uraian dari pokok pikiran atau gagasan pokok. (Darmadi, 2008:7)

Berdasarkan definisi di atas, siswa dituntut untuk menentukan ide utama atau pokok pembicaraan yang dikembangkan dalam sebuah paragraf. Menentukan pokok pikiran paragaraf sangat penting untuk dikuasai oleh siswa karena dengan memahami pokok pikiran paragraf, siswa dapat mengetahui isi paragraf yang dibacanya.
Kemampuan secara umum dapat diartikan sebagai sebuah kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan untuk melakukan sesuatu (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008:909). Dengan demikian, kemampuan siswa dalam mengidentifikasi pokok pikiran paragraf dapat diartikan sebagai sebuah kesanggupan yang yang diperlihatkan oleh siswa dalam menentukan pokok pikiran sebuah paragraf.
Untuk menentukan pokok pikiran paragraf, siswa memerlukan adanya keterampilan membaca. Keterampilan membaca merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang bertujuan untuk memahami lambang-lambang dalam tulisan dan memaknai isi dari tulisan tersebut. Hodgson (dalam Tarigan, 1985:7) mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.
Kemampuan membaca yang diterapkan untuk mengidentifikasi pokok pikiran paragraf adalah kemampuan membaca kritis. Batasan definisi tentang kemampuan membaca kritis dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kemampuan membaca kritis merupakan kemampuan pembaca untuk mengolah bahan bacaan secara kritis dan menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat, maupun makna tersirat. Mengolah bahan bacaan secara kritis artinya, dalam proses membaca seorang pembaca tidak hanya menangkap makna yang tersurat (makna baris-baris bacaan, (Reading The Lines), tetapi juga menemukan makna antarbaris (Reading Between The Lines), dan makna di balik baris (Reading Beyond The Lines). (Tarigan, 1985:37)
Berdasarkan definisi tentang kemampuan membaca tersebut, dapat diambl sebuah hubungan antara keterampilan membaca dengan kemampuan siswa mengidentifikasi pokok pikiran paragraf. Dalam menentukan pokok pikiran paragraf, siswa memerlukan adanya proses atau kegiatan pencarian pesan yang ingin disampaikan oleh penulis sebuah bacaan.

C.  Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1989 : 589 ), model memiliki arti pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya ) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Berdasarkan definisi model tersebut, dapat kita ketahui bahwa model merupakan acuan dasar dari sebuah tindakan atau perbuatan. Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan (Sukmasari, Laela, 2005 : 7).
Dalam ilmu pendidikan dikenal adanya model pembelajaran, yaitu sebuah pola perencanaan pembelajaran yang akan digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran. Definisi khusus dari model pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut :
Model pembelajaran adalah suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu. Dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru, siswa, sumber belajar yang digunakan di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada siswa (Laela Sukmasari, 2005 : 11 )

Menurut ilmu pendidikan, dikenal beberapa model pembelajaran, seperti model pembelajaran tematik, model pencapaian konsep, model pembelajaran kooperatif, dan beberapa model lainnya. Semua model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga sulit untuk menentukan model pembelajaran yang paling efektif. Oleh karena itu, dalam pemilihan model pembelajaran, guru harus dapat menyesuaikan model yang dipilih dengan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kondisi, dan karakteristik siswa.
Salah satu model pembelajaran yang sekarang banyak dikembangkan di beberapa sekolah, khususnya jenjang Sekolah Dasar (SD) adalah model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning ). Pembelajaran ini menekankan pada adanya aspek kooperatif atau kerja sama antara satu siswa dengan siswa yang lain. Kerja sama yang dibangun dalam model pembelajaran kooperatif adalah sistem kerja sama yang terstruktur dan terencana dengan baik.
Pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning ) merupakan suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih.  ( Sukmasari,Laela, 2005 : 30 ).

Pembelajaran kooperatif tersebut dinilai cocok karena sesuai dengan perkembangan siswa, khususnya siswa SD. Hal tersebut disampaikan oleh Anita Lie (dalam Sukmasari, Laela, 2005 : 29-30), bahwa dalam paradigma pembelajaran baru perlu menyusun dan melaksanakan pemikiran antara lain :
a.       Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa ;
b.      Siswa membangun pengetahuan secara aktif ;
c.       Guru perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa ; dan
d.      Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara dua pihak yaitu antara guru dengan siswa.

Mengacu kepada empat paradigma pembelajaran baru di atas, model pembelajaran kooperatif telah memenuhi unsur-unsur tersebut. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa terlibat secara aktif untuk menemukan, membentuk, dan mengembangkan pengetahuannya sendiri dengan difasilitasi oleh guru. Sehingga peran guru dalam pembelajaran kooperatif lebih besar sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Hal ini mengubah pola pembelajaran yang kebanyakan menempatkan siswa dalam posisi objek pembelajaran yang pasif menjadi subjek pembelajaran yang dituntut untuk aktif dalam menggali informasi dan pengetahuan.

D.  Pembelajaran Jigsaw
Pembelajaran tipe jigsaw dilakukan dengan cara membagi siswa ke dalam beberapa kelompok induk dan disebarkan ke dalam beberapa kelompok ahli untuk kemudian kembali ke kelompok induk (Sukmasari,Laela, 2005:34). Dengan cara seperti itu, diharapkan siswa dapat melakukan kerja sama dan saling bertukar serta saling melengkapi informasi yang diperoleh dalam kelompok ahli kepada kelompok induknya.
Sukmasari (2005:35) menyatakan bahwa teknik Jigsaw menekankan pada aspek kebersamaan dan kerja sama tim yang baik. Selain itu, penerapan teknik ini juga akan menambah pengetahuan siswa secara langsung, karena ilmu baru mereka diperoleh dari kegiatan yang melibatkan siswa sebagai objek pembelajaran. Penerapan model Jigsaw sangat sesuai dengan lima unsur dalam “Cooperative Learning” yang dikemukakan oleh Roger dan David Johnson (Sukmasari, Laela, 2005 : 30-31), yaitu :
1.    Saling ketergantungan positif antar anggota kelompok ;
2.    Adanya tanggung jawab berdasarkan kebutuhan pribadi ;
3.    Adanya tatap muka antara murid dengan murid maupun antara guru dan murid ;
4.    Adanya komunikasi antar anggota ; dan
5.    Proses kelompok, merupakan proses perolehan jawaban permasalahan yang dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.

Berdasarkan beberapa landasan tentang model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di atas, penelitian tindakan kelas tentang pokok pikiran paragraf ini menggunakan model pembelajaran tersebut. Salah satu alasan pemilihan model pembelajaran tersebut adalah agar siswa terbiasa bekerja sama dan menemukan sendiri informasi yang diperlukannya.

E.  Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Pembelajaran Identifikasi Pokok Pikiran Paragraf
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif diawali dengan segi perencanaan pembelajaran, yaitu dengan menyusun sebuah persiapan mengajar atau rencana pembelajaran. Setelah menyusun rencana pembelajaran secara tertulis, guru menyiapkan materi bacaan yang akan diidentifikasi pokok pikiran paragrafnya oleh siswa serta menyusun sebuah lembar observasi untuk mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung. Langkah berikutnya, yaitu merencanakan langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh oleh guru dalam menyampaikan materi identifikasi pokok pikiran paragraf.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :
1.        Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan cara ini, siswa akan terfokus pada proses pembelajaran. Selain itu, guru juga perlu memotivasi siswa agar mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini diperlukan agar siswa memiliki dorongan positif dan memiliki keinginan untuk menguasai materi pembelajaran dengan baik.
2.        Langkah selanjutnya yaitu penyampaian informasi sebagai gambaran awal materi pelajaran yang akan disampaikan, sehingga siswa memiliki fokus perhatian yang lebih spesifik terhadap pelajaran yang disampaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membacakan sumber pelajaran yang relevan.
3.        Guru mengorganisasikan siswa ke dalam beberapa kelompok belajar. Dalam langkah ini, guru menjelaskan pada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar yang baik dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien.
4.        Setelah terbentuk beberapa kelompok belajar dan seluruh kelompok belajar telah memahami cara kerja kelompok masing-masing, guru memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk membahas permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Dalam proses ini, guru membimbing setiap kelompok belajar agar dalam proses bekerja secara kelompok dapat mencapai hasil yang optimal.
5.        Dalam tahap evaluasi, guru menugaskan tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Presentasi kelompok dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa itu sendiri. Dalam penyampaian hasil kerja kelompok ini, guru memberikan kesempatan pada siswa yang lain untuk menanggapi presentasi kelompok lainnya. Selain itu, guru mengajukan beberapa pertanyaan yang memancing pemikiran siswa untuk melengkapi hasil kerja kelompoknya.
6.        Setelah tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya, guru melakukan penilaian. Setelah diadakan penilaian, guru memberikan penghargaan (reward) kepada tiap kelompok atas hasil kerja kelompok tersebut. Pemberian penghargaan ini harus memperhatikan faktor keterbukaan dan memperhatikan efek dari penghargaan tersebut. Dalam pemberian penghargaan ini, guru harus proporsional dan tidak diperkenankan menjatuhkan mental anak didik. Fungsi dari pemberian penghargaan ini untuk memotivasi siswa agar mampu bekerja kelompok dengan lebih baik.
7.        Setelah menganalisis hasil evaluasi dan memberikan penghargaan, guru merancang pelaksanaan tindakan pembelajaran selanjutnya. Apabila hasil pembelajaran dianggap belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, guru perlu mengadakan remidial, dan jika pembelajaran telah memenuhi standar yang diharapkan, guru mengadakan pengayaan.
Proses pelaksanaan pembelajaran identifikasi pokok pikiran paragraf dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Siswa dibagi 4 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang. Kelompok ini dinamakan Kelompok Induk.
Text Box: A.1  A.2
A.3
A.4  A.5    Text Box: B.1  B.2
B.3
B.4  B.5    Text Box: C.1  C.2
C.3
C.4  C.5 Text Box: D.1  D.2
D.3
D.4  D.5

        Kelompok A       Kelompok B     Kelompok C     Kelompok D

b.      Setiap anggota kelompok diberi bagian materi tugas yang berbeda. Materi ditentukan oleh guru sebanyak jumlah anggota tiap kelompok. Dalam pembelajaran identifikasi pokok pikiran paragraf  ini, anggota dengan nomor 1 dalam tiap kelompok menentukan pokok pikiran paragraf pertama, nomor 2 menentukan pokok pikiran paragraf kedua, nomor 3 menentukan pokok pikiran paragraf ketiga, dan siswa nomor 4 menentukan pokok pikiran paragraf keempat.
c.       Anggota dari tiap kelompok yang memiliki nomor sama bertemu dan membentuk Tim Ahli untuk mendiskusikan materi yang ditugaskan.
Text Box: A.1   B.1
C.1   D.1 Text Box: A.2   B.2
C.2   D.2
E.2 Text Box: A.3   B.3
C.3   D.3
E.3 Text Box: A.4   B.4
C.4   D.4
E.4 Text Box: A.5   B.5
C.5   D.5
E.5
    Tim Ahli 1      Tim Ahli 2       Tim Ahli 3     Tim Ahli 4        Tim Ahli 5
d.      Setelah selesai diskusi dalam tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok induk, dan bergantian menyampaikan hasil diskusi kelompok ahli kepada teman satu tim, dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh secara bergantian.
e.       Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
f.       Selama proses pembelajaran, guru memberikan bimbingan dan klarifikasi.
g.       Evaluasi.
h.      Refleksi dan tindak lanjut pembelajaran.