Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 21 Januari 2011

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


 Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Materi Pokok Menentukan Pokok Pikiran Paragraf

Oleh : Nanang Heryanto, S.Pd.I

A.    Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Proses belajar secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu (Depdiknas, 2007:17). Sedangkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 20 terdapat definisi pembelajaran secara umum, “ Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar di suatu lingkungan belajar“. Berdasarkan dua definisi di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan proses penggalian ilmu pengetahuan melalui adanya hubungan antara pendidik dan siswa yang terjadi dalam suatu lingkungan belajar.
Secara khusus, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa, baik lisan maupun tulis ( Resmini, Novi,dkk, 2006:49). Kemampuan berbahasa tersebut secara khusus kemahiran berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pembelajaran bahasa Indonesia memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik agar mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis sesuai dengan kaidah ketatabahasaan Indonesia.
Pelaksanaan pembelajaran memiliki acuan sebagai dasar pengembangan sebuah mata pelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) dilaksanakan dengan mengacu pada landasan pembelajaran berupa (1) kurikulum sebagai landasan formal, (2) sejumlah wawasan teoretik konseptual sebagai landasan filosofis ideal, dan (3) buku teks bahasa Indonesia sebagai landasan operasional (Resmini, N, dkk, 2006 : 1).
Sebagaimana pelajaran yang lain, pembelajaran bahasa Indonesia di SD memiliki fungsi yang cukup penting bagi siswa. Adapun fungsi pembelajaran Bahasa Indonesia di SD menurut Novi Resmini,dkk ( 2006 : 35 ) yaitu :
a.       Sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa ;
b.      Sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya ;
c.       Sarana peningkatan pengetahuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni ;
d.      Sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks untuk berbagai keperluan dan dan berbagai masalah ; dan
e.       Sarana pengembangan kemampuan intelektual (penalaran).

Selain fungsi yang telah ditetapkan, diperlukan pula adanya tujuan secara umum pembelajaran agar dalam pengembangan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran memiliki alur yang jelas dan terarah. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD sesuai dengan Kurikulum 2006 bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
a.       Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis ;
b.      Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara ;
c.       Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan ;
d.      Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial ;
e.       Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa ; dan
f.       Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
(BSNP, 2007:6)

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat lima aspek pembelajaran, yaitu aspek mendengarkan, membaca, menulis, berbicara, dan apresiasi sastra. Kelima aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain. Dalam pembelajarannya kelima aspek tersebut tidak diajarkan secara terpisah, melainkan dalam satu pembelajaran bisa mencakup lebih dari satu aspek. Namun dalam penilaiannya, kelima aspek tersebut terpisah ( Depdiknas, 2005 : 57 ).

B.  Pokok Pikiran Paragraf
Salah satu aspek pembelajaran bahasa Indonesia adalah aspek membaca. Aspek ini memiliki kaitan yang erat dengan aspek yang lain seperti menulis, mendengarkan, dan membaca. Keterampilan membaca sangat penting untuk dikuasai dengan baik oleh siswa, karena dengan membaca dan memahami isi bacaan tersebut siswa dapat menemukan informasi yang terkandung di dalam bacaan.
Dari beberapa keterampilan membaca yang perlu dikuasai oleh siswa kelas IV SD adalah menentukan pokok pikiran paragraf dalam  sebuah bacaan. Pokok pikiran dapat diartikan sebagai sebuah ide utama yang dikembangkan dalam satu paragraf.
Pokok pikiran adalah ide utama dari sebuah paragraf. Pokok pikiran dalam suatu paragraf biasanya terdapat di awal paragraf, di akhir, atau di awal dan di akhir paragraf. Pokok pikiran pada umumnya dijelaskan dengan kalimat-kalimat penjelas sebagai uraian dari pokok pikiran atau gagasan pokok. (Darmadi, 2008:7)

Berdasarkan definisi di atas, siswa dituntut untuk menentukan ide utama atau pokok pembicaraan yang dikembangkan dalam sebuah paragraf. Menentukan pokok pikiran paragaraf sangat penting untuk dikuasai oleh siswa karena dengan memahami pokok pikiran paragraf, siswa dapat mengetahui isi paragraf yang dibacanya.
Kemampuan secara umum dapat diartikan sebagai sebuah kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan untuk melakukan sesuatu (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2008:909). Dengan demikian, kemampuan siswa dalam mengidentifikasi pokok pikiran paragraf dapat diartikan sebagai sebuah kesanggupan yang yang diperlihatkan oleh siswa dalam menentukan pokok pikiran sebuah paragraf.
Untuk menentukan pokok pikiran paragraf, siswa memerlukan adanya keterampilan membaca. Keterampilan membaca merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang bertujuan untuk memahami lambang-lambang dalam tulisan dan memaknai isi dari tulisan tersebut. Hodgson (dalam Tarigan, 1985:7) mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis.
Kemampuan membaca yang diterapkan untuk mengidentifikasi pokok pikiran paragraf adalah kemampuan membaca kritis. Batasan definisi tentang kemampuan membaca kritis dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kemampuan membaca kritis merupakan kemampuan pembaca untuk mengolah bahan bacaan secara kritis dan menemukan keseluruhan makna bahan bacaan, baik makna tersurat, maupun makna tersirat. Mengolah bahan bacaan secara kritis artinya, dalam proses membaca seorang pembaca tidak hanya menangkap makna yang tersurat (makna baris-baris bacaan, (Reading The Lines), tetapi juga menemukan makna antarbaris (Reading Between The Lines), dan makna di balik baris (Reading Beyond The Lines). (Tarigan, 1985:37)
Berdasarkan definisi tentang kemampuan membaca tersebut, dapat diambl sebuah hubungan antara keterampilan membaca dengan kemampuan siswa mengidentifikasi pokok pikiran paragraf. Dalam menentukan pokok pikiran paragraf, siswa memerlukan adanya proses atau kegiatan pencarian pesan yang ingin disampaikan oleh penulis sebuah bacaan.

C.  Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1989 : 589 ), model memiliki arti pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya ) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Berdasarkan definisi model tersebut, dapat kita ketahui bahwa model merupakan acuan dasar dari sebuah tindakan atau perbuatan. Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan (Sukmasari, Laela, 2005 : 7).
Dalam ilmu pendidikan dikenal adanya model pembelajaran, yaitu sebuah pola perencanaan pembelajaran yang akan digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran. Definisi khusus dari model pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut :
Model pembelajaran adalah suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu. Dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru, siswa, sumber belajar yang digunakan di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada siswa (Laela Sukmasari, 2005 : 11 )

Menurut ilmu pendidikan, dikenal beberapa model pembelajaran, seperti model pembelajaran tematik, model pencapaian konsep, model pembelajaran kooperatif, dan beberapa model lainnya. Semua model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga sulit untuk menentukan model pembelajaran yang paling efektif. Oleh karena itu, dalam pemilihan model pembelajaran, guru harus dapat menyesuaikan model yang dipilih dengan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, kondisi, dan karakteristik siswa.
Salah satu model pembelajaran yang sekarang banyak dikembangkan di beberapa sekolah, khususnya jenjang Sekolah Dasar (SD) adalah model pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning ). Pembelajaran ini menekankan pada adanya aspek kooperatif atau kerja sama antara satu siswa dengan siswa yang lain. Kerja sama yang dibangun dalam model pembelajaran kooperatif adalah sistem kerja sama yang terstruktur dan terencana dengan baik.
Pembelajaran kooperatif ( Cooperative Learning ) merupakan suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih.  ( Sukmasari,Laela, 2005 : 30 ).

Pembelajaran kooperatif tersebut dinilai cocok karena sesuai dengan perkembangan siswa, khususnya siswa SD. Hal tersebut disampaikan oleh Anita Lie (dalam Sukmasari, Laela, 2005 : 29-30), bahwa dalam paradigma pembelajaran baru perlu menyusun dan melaksanakan pemikiran antara lain :
a.       Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa ;
b.      Siswa membangun pengetahuan secara aktif ;
c.       Guru perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa ; dan
d.      Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara dua pihak yaitu antara guru dengan siswa.

Mengacu kepada empat paradigma pembelajaran baru di atas, model pembelajaran kooperatif telah memenuhi unsur-unsur tersebut. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa terlibat secara aktif untuk menemukan, membentuk, dan mengembangkan pengetahuannya sendiri dengan difasilitasi oleh guru. Sehingga peran guru dalam pembelajaran kooperatif lebih besar sebagai seorang fasilitator pembelajaran. Hal ini mengubah pola pembelajaran yang kebanyakan menempatkan siswa dalam posisi objek pembelajaran yang pasif menjadi subjek pembelajaran yang dituntut untuk aktif dalam menggali informasi dan pengetahuan.

D.  Pembelajaran Jigsaw
Pembelajaran tipe jigsaw dilakukan dengan cara membagi siswa ke dalam beberapa kelompok induk dan disebarkan ke dalam beberapa kelompok ahli untuk kemudian kembali ke kelompok induk (Sukmasari,Laela, 2005:34). Dengan cara seperti itu, diharapkan siswa dapat melakukan kerja sama dan saling bertukar serta saling melengkapi informasi yang diperoleh dalam kelompok ahli kepada kelompok induknya.
Sukmasari (2005:35) menyatakan bahwa teknik Jigsaw menekankan pada aspek kebersamaan dan kerja sama tim yang baik. Selain itu, penerapan teknik ini juga akan menambah pengetahuan siswa secara langsung, karena ilmu baru mereka diperoleh dari kegiatan yang melibatkan siswa sebagai objek pembelajaran. Penerapan model Jigsaw sangat sesuai dengan lima unsur dalam “Cooperative Learning” yang dikemukakan oleh Roger dan David Johnson (Sukmasari, Laela, 2005 : 30-31), yaitu :
1.    Saling ketergantungan positif antar anggota kelompok ;
2.    Adanya tanggung jawab berdasarkan kebutuhan pribadi ;
3.    Adanya tatap muka antara murid dengan murid maupun antara guru dan murid ;
4.    Adanya komunikasi antar anggota ; dan
5.    Proses kelompok, merupakan proses perolehan jawaban permasalahan yang dikerjakan oleh kelompok secara bersama-sama.

Berdasarkan beberapa landasan tentang model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di atas, penelitian tindakan kelas tentang pokok pikiran paragraf ini menggunakan model pembelajaran tersebut. Salah satu alasan pemilihan model pembelajaran tersebut adalah agar siswa terbiasa bekerja sama dan menemukan sendiri informasi yang diperlukannya.

E.  Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Pembelajaran Identifikasi Pokok Pikiran Paragraf
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif diawali dengan segi perencanaan pembelajaran, yaitu dengan menyusun sebuah persiapan mengajar atau rencana pembelajaran. Setelah menyusun rencana pembelajaran secara tertulis, guru menyiapkan materi bacaan yang akan diidentifikasi pokok pikiran paragrafnya oleh siswa serta menyusun sebuah lembar observasi untuk mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung. Langkah berikutnya, yaitu merencanakan langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh oleh guru dalam menyampaikan materi identifikasi pokok pikiran paragraf.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :
1.        Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan cara ini, siswa akan terfokus pada proses pembelajaran. Selain itu, guru juga perlu memotivasi siswa agar mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini diperlukan agar siswa memiliki dorongan positif dan memiliki keinginan untuk menguasai materi pembelajaran dengan baik.
2.        Langkah selanjutnya yaitu penyampaian informasi sebagai gambaran awal materi pelajaran yang akan disampaikan, sehingga siswa memiliki fokus perhatian yang lebih spesifik terhadap pelajaran yang disampaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membacakan sumber pelajaran yang relevan.
3.        Guru mengorganisasikan siswa ke dalam beberapa kelompok belajar. Dalam langkah ini, guru menjelaskan pada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar yang baik dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien.
4.        Setelah terbentuk beberapa kelompok belajar dan seluruh kelompok belajar telah memahami cara kerja kelompok masing-masing, guru memberikan tugas kepada setiap kelompok untuk membahas permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Dalam proses ini, guru membimbing setiap kelompok belajar agar dalam proses bekerja secara kelompok dapat mencapai hasil yang optimal.
5.        Dalam tahap evaluasi, guru menugaskan tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Presentasi kelompok dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa itu sendiri. Dalam penyampaian hasil kerja kelompok ini, guru memberikan kesempatan pada siswa yang lain untuk menanggapi presentasi kelompok lainnya. Selain itu, guru mengajukan beberapa pertanyaan yang memancing pemikiran siswa untuk melengkapi hasil kerja kelompoknya.
6.        Setelah tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya, guru melakukan penilaian. Setelah diadakan penilaian, guru memberikan penghargaan (reward) kepada tiap kelompok atas hasil kerja kelompok tersebut. Pemberian penghargaan ini harus memperhatikan faktor keterbukaan dan memperhatikan efek dari penghargaan tersebut. Dalam pemberian penghargaan ini, guru harus proporsional dan tidak diperkenankan menjatuhkan mental anak didik. Fungsi dari pemberian penghargaan ini untuk memotivasi siswa agar mampu bekerja kelompok dengan lebih baik.
7.        Setelah menganalisis hasil evaluasi dan memberikan penghargaan, guru merancang pelaksanaan tindakan pembelajaran selanjutnya. Apabila hasil pembelajaran dianggap belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, guru perlu mengadakan remidial, dan jika pembelajaran telah memenuhi standar yang diharapkan, guru mengadakan pengayaan.
Proses pelaksanaan pembelajaran identifikasi pokok pikiran paragraf dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Siswa dibagi 4 kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang. Kelompok ini dinamakan Kelompok Induk.
Text Box: A.1  A.2
A.3
A.4  A.5    Text Box: B.1  B.2
B.3
B.4  B.5    Text Box: C.1  C.2
C.3
C.4  C.5 Text Box: D.1  D.2
D.3
D.4  D.5

        Kelompok A       Kelompok B     Kelompok C     Kelompok D

b.      Setiap anggota kelompok diberi bagian materi tugas yang berbeda. Materi ditentukan oleh guru sebanyak jumlah anggota tiap kelompok. Dalam pembelajaran identifikasi pokok pikiran paragraf  ini, anggota dengan nomor 1 dalam tiap kelompok menentukan pokok pikiran paragraf pertama, nomor 2 menentukan pokok pikiran paragraf kedua, nomor 3 menentukan pokok pikiran paragraf ketiga, dan siswa nomor 4 menentukan pokok pikiran paragraf keempat.
c.       Anggota dari tiap kelompok yang memiliki nomor sama bertemu dan membentuk Tim Ahli untuk mendiskusikan materi yang ditugaskan.
Text Box: A.1   B.1
C.1   D.1 Text Box: A.2   B.2
C.2   D.2
E.2 Text Box: A.3   B.3
C.3   D.3
E.3 Text Box: A.4   B.4
C.4   D.4
E.4 Text Box: A.5   B.5
C.5   D.5
E.5
    Tim Ahli 1      Tim Ahli 2       Tim Ahli 3     Tim Ahli 4        Tim Ahli 5
d.      Setelah selesai diskusi dalam tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok induk, dan bergantian menyampaikan hasil diskusi kelompok ahli kepada teman satu tim, dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh secara bergantian.
e.       Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
f.       Selama proses pembelajaran, guru memberikan bimbingan dan klarifikasi.
g.       Evaluasi.
h.      Refleksi dan tindak lanjut pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar