Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 25 Maret 2011

TOTAL QUALITY MANAGEMENT


IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT
SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN SEKOLAH DASAR UNGGULAN
Ditulis oleh : Nanang Heryanto, S.Pd.I
(Ketua KKG Gugus IV Lakbok)

Derasnya arus globalisasi akan membawa dampak kepada berbagai aspek kehidupan di sekitar kita, di antaranya dalam bidang sosial, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Seiring dengan derasnya arus globalisasi tersebut, negara kita dituntut untuk memiliki ketangguhan dan keunggulan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena itu, hal tersebut secara langsung berimbas pula pada dunia pendidikan.Untuk dapat memperlihatkan eksistensi kita sebagai bangsa yang besar, kita membutuhkan lahirnya generasi penerus bangsa yang memiliki SDM yang unggul. Dengan adanya kebutuhan akan SDM yang berkualitas, masyarakat mengharapkan adanya institusi pendidikan yang mampu mewujudkan generasi-generasi baru yang memiliki daya saing dan berkualitas tinggi. Harapan-harapan masyarakat tersebut selayaknya mampu menjadi motivasi bagi para stake holder pendidikan untuk memaksimalkan pelayanan dalam bidang pendidikan.
Pendidikan sebagai salah satu upaya untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan kualitas hidup manusia merupakan sebuah sistem yang dinamis dan penuh tantangan akan perubahan. Dalam realitas di lapangan, menunjukkan bahwa pendidikan harus mampu beradaptasi dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Jika pendidikan tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman, maka yang dihasilkan adalah produk-produk pendidikan yang tidak mampu berkompetisi dalam persaingan global. Oleh karena itu pendidikan hendaknya senantiasa mengikuti dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Sekolah Dasar sebagai salah satu institusi pendidikan memiliki peranan yang cukup signifikan dalam menentukan kualitas SDM Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. Sebagai bahan refleksi patut kita ungkap pendapat Nanang Fatah ( 2003 : 1 ) yang mengemukakan bahwa : “...sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid, melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan, oleh karena itu, sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan.
Berdasarkan pendapat di atas, sekolah memerlukan sebuah sistem manajerial yang tertata dengan baik. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Dengan adanya sistem pengelolaan yang baik, diharapkan sekolah akan mampu memberdayakan SDM pendidikan agar bekerja secara profesional dan optimal, sehingga menghasilkan out put pendidikan yang bermutu dan kompetitif, sehingga akan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Dalam kenyataan yang terjadi di lapangan, masih terdapat beberapa sekolah yang belum menerapkan manajemen yang sistematis dan terorganisir dengan baik, sehingga dapat mengakibatkan tenaga pendidik dan kependidikan yang dimiliki kurang mampu mengoptimalisasi kinerja yang dimilikinya. Selain itu, beberapa sekolah yang berperan sebagai sebuah lembaga pendidikan terkesan masih kurang memberdayakan masyarakat sebagai salah satu komponen pendidikan. Akibat dari adanya kelemahan dalam manajemen sekolah tersebut adalah sistem pendidikan yang kurang terencana dan pada akhirnya akan menghasilkan out put pendidikan yang kurang memenuhi keinginan masyarakat.
Kondisi masyarakat kita dewasa ini mulai menunjukkan indikasi adanya harapan besar terhadap dunia pendidikan. Masyarakat yang hidup dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat sangat mengharapkan adanya sebuah lembaga pendidikan yang mampu memberikan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar anak-anak didik menjadi generasi yang berkualitas. Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pentingnya pendidikan menuntut para stake holder pendidikan untuk merealisasikan keinginan masyarakat dengan cara menciptakan sebuah sistem pendidikan yang mampu memenuhi tuntutan masyarakat tersebut.
Untuk mewujudkan lembaga sekolah yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, maka muncullah gagasan-gagasan penciptaan sekolah unggulan, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar. SD unggulan merupakan salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pendidikan masyarakat. Untuk mewujudkan sekolah unggulan diperlukan sistem manajerial yang kuat. Dengan demikian,dibutuhkan seorang pimpinan yang memiliki kompetensi dalam bidang manajerial. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan Kepala Sekolah yang mampu berperan sebagai manajer yang baik sehingga dapat mengelola sekolah menjadi sebuah institusi pendidikan yang memiliki daya kompetisi yang tinggi.
Dalam dunia pendidikan dasar di Indonesia, beberapa tahun yang lalu telah disosialisasikan Sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dengan diterapkannya sistem MBS tersebut, sekolah diharapkan mampu mewujudkan pelayanan yang maksimal dalam bidang pendidikan dengan mengoptimalisasi sumber daya pendidikan yang dimiliki sekolah. Dengan penerapan MBS di tingkat SD, sekolah mempunyai kewenangan penuh dalam penentuan visi, misi, tujuan, dan keputusan yang berhubungan dengan kemajuan sekolah yang bersangkutan.
Akan tetapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa tidak semua sekolah mampu menerapkan MBS dengan baik. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor kemampuan kepala sekolah sebagai seorang manajer maupun faktor guru dan masyarakat sebagai bagian dari sebuah sistem pendidikan. Menyikapi hal tersebut diperlukan inovasi dan implementasi sistem manajerial yang mampu mewujudkan harapan akan terciptanya SD yang unggul. Salah satu sistem manajemen yang sedang dikembangkan dan banyak diterapkan di berbagai bidang adalah sistem Total Quality Management (TQM). Sistem ini lebih sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki keinginan untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan kepada konsumen. Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, TQM dapat pula diimplementasikan di Sekolah Dasar agar masyarakat sebagai 'konsumen' pendidikan memiliki kepuasan atas pelayanan yang diberikan oleh sekolah.
Total Quality Management (TQM) yang dikenal dengan istilah Manajemen Mutu Terpadu pada awalnya merupakan sistem manajemen yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika sejak tahun 1970. Tokoh penggagas TQM, W.Edwards Deming telah menerapkan sistem ini dan berhasil mengatasi permasalahan di beberapa perusahaan dan mampu meningkatkan mutu pelayanan dari perusahaan kepada para konsumen (customer) (Gaspersz, 1970). Melihat keberhasilan TQM dalam meningkatkan kinerja perusahaan serta mampu meningkatkan pula mutu layanan terhadap konsumen (masyarakat), maka TQM diterapkan pula dalam bidang pemerintahan, misalnya TQM pernah diterapkan di Angkatan Udara Amerika Serikat (Creech, 1996).
Sutopo,dkk (2003 : 19) mendefinisikan TQM sebagai sebuah paradigma baru dalam manajemen yang berusaha memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara berkesinambungan atas mutu barang, jasa, manusia, dan lingkungan organisasi. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa TQM merupakan sebuah sistem manajemen yang diterapkan untuk meningkatkan daya saing sebuah institusi sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan sehingga mencapai sebuah Pelayanan Prima ( Excellent Services ). Maksimalisasi organisasi tersebut tidak dapat dilakukan secara radikal, akan tetapi memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan keadaan sehingga komponen-komponen yang terlibat di dalam sebuah institusi dapat mengikuti sistem tersebut dengan baik.
Penerapan TQM dalam berbagai bidang pada dasarnya adalah untuk menciptakan sebuah peningkatan dan perubahan dalam produktivitas kinerja personal. Dalam hal ini, Nanang Fattah ( 2004 : 120 ) menyatakan bahwa TQM adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas usaha, baik secara kualitas maupun secara kuantitas.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa TQM merupakan suatu sistem manajemen yang berorientasi kepada perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan dari pihak penyedia barang atau jasa kepada pihak pemakai (konsumen). Tujuan utama dari TQM adalah untuk meningkatkan mutu secara total.
Untuk memaksimalkan penerapan TQM, perlu diperhatikan beberapa aspek penunjang efektivitas TQM di suatu lembaga/institusi, termasuk dalam institusi pendidikan. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam implementasi TQM dikemukakan oleh Tjiptono (dalam Sutopo,dkk, 2003 : 19-20) sebagai berikut : berfokus pada pelanggan, obsesi terhadap mutu, pendekatan ilmiah dalam merancang keputusan dan pekerjaan, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan sistem secara berkesinambungan, dan pendidikan dan pelatihan.
Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam penerapan TQM adalah aspek fokus pelanggan. Dalam hal ini, setiap lembaga harus mewujudkan pelayanan yang bertujuan utama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Pelanggan merupakan salah satu bagian dari sebuah sistem yang berperan sebagai pengawas (controller )terhadap produk barang atau jasa yang dihasilkan. Dalam penerapan TQM juga perlu adanya obsesi untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan, baik barang maupun jasa. Dengan adanya obsesi ini, diharapkan motivasi kerja para stake holder akan meningkat. Jika peningkatan mutu pelayanan ditingkatkan, tentu saja akan berpengaruh terhadap arah kebijakan dan pelaksanaan suatu institusi.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian dalam penerapan TQM adalah adanya pendekatan yang bersifat ilmiah. Pendekatan ilmiah merupakan proses untuk merancang pekerjaan maupun dalam membuat keputusan dan pemecahan masalah yang ditemui dalam pekerjaan tersebut. Dalam hal ini pembuat keputusan di suatu lembaga hendaknya memperhatikan faktor ilmiah, dengan kata lain keputusan yang diambil harus bersikap logis dan rasional. Untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan TQM, perlu juga diperhatikan adanya komitmen jangka panjang untuk melakukan perubahan budaya kerja menuju ke arah yang lebih baik. Dengan adanya perubahan budaya kerja ini tentunya akan berimbas kepada perubahan pada hasil kerja atau produk yang dihasilkan.
Kerja sama tim ( team building ) yang kuat juga turut menentukan keberhasilan penerapan TQM. Hal ini merupakan aspek fundamental yang harus terpenuhi dalam sebuah sistem manajemen pekerjaan. Kerja sama yang baik harus selalu dijalin, baik dengan pihak internal lembaga maupun pihak eksternal termasuk pengguna jasa dalam bidang pendidikan. Hal lain yang menunjang keberhasilan TQM adalah adanya perbaikan sistem secara berkesinambungan. Hal ini memerlukan waktu dan proses yang panjang dan sistematis. Dengan adanya perubahan sistem, diharapkan akan muncul pula perubahan pada kinerja personal yang pada akhirnya akan menuju perbaikan mutu pelayanan.
Hal terakhir yang perlu untuk diterapkan dalam sebuah institusi adalah adanya pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan bagi para pekerja merupakan upaya untuk memaksimalkan kinerja personal. Dengan dilakukannya pendidikan dan pelatihan akan membawa peningkatan mutu kerja. Hal ini dapat ditempuh dengan cara mengikuti seminar, pelatihan, lokakarya, maupun mengikuti pendidikan dalam jalur formal. Lembaga yang baik hendaknya memfasilitasi peningkatan pendidikan pekerja yang berada dalam lembaga tersebut.
Berdasarkan aspek-aspek TQM yang telah diuraikan sebelumnya, maka TQM dapat diterapkan di Sekolah Dasar sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat. Karena SD merupakan institusi pendidikan, maka penerapan TQM di SD memiliki karakteristik yang berbeda dengan institusi lainnya.
Langkah-langkah implementasi TQM di SD dapat diuraikan sebagai berikut :
1.    Pelayanan pendidikan di Sekolah Dasar hendaknya memperhatikan kondisi lingkungan sekolah, sehingga pendidikan yang dilaksanakan memenuhi harapan masyarakat. Dalam hal ini, pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan mengacu pada pengembangan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dan kondisi masyarakat sekitar sekolah. Sebagai contoh, untuk wilayah Pangandaran yang memiliki tempat wisata, sebaiknya pengembangan kurikulum berorientasi pada kebutuhan kepariwisataan. Hal tersebut akan berbeda dengan daerah lain yang lingkungannya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani yang lebih cocok untuk diadakan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada dunia pertanian. Dengan pengembangan kurikulum berdasarkan karakteristik lingkungan, diharapkan akan mampu menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan berakar pada kebutuhan masyarakat.
2.    Pelaksanaan pendidikan di SD harus memiliki visi dan misi yang jelas dan terarah agar para pendidik mempunyai obsesi untuk selalu meningkatkan mutu pendidikan bagi kepentingan dan kemajuan anak didik. Dengan adanya obsesi terhadap peningkatan mutu pembelajaran ini, diharapkan tidak ada lagi pendidik yang menjalankan tugas sekedar untuk memenuhi kewajiban dan tidak berusaha mengadakan pembaharuan yang berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran.
3.    Pengambilan keputusan yang mencakup pendidikan dilakukan secara ilmiah. Proses pengambilan keputusan ini hendaknya didasari oleh tingkat kepentingan keputusan dan target dasar yang harus dicapai dalam pelaksanaan keputusan tersebut. Untuk dapat mengambil keputusan secara ilmiah, diperlukan manajer yang menguasai sistem pengelolaan sekolah yang baik.
4.    Sekolah hendaknya mempunyai komitmen jangka panjang untuk melakukan perubahan budaya kerja. Dengan perubahan budaya kerja para tenaga pendidik, akan menghasilkan proses pembelajaran yang selalu baru dan dapat menarik minat serta perhatian siswa. Dengan selalu diadakannya perubahan kinerja, akan berimbas pula pada peningkatan mutu out put pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah.
5.    Para tenaga pendidik di Sekolah Dasar hendaknya memiliki semangat kerja sama yang kuat. Dengan adanya kerja sama yang kuat antar personil dan antara lembaga dengan masyarakat, akan menciptakan suatu sinergi kemampuan dan terjadi interaksi positif yang dapat menghasilkan keputusan dan pelaksanaan pembelajaran yang efektif. Kerja sama yang baik dalam lingkungan sekolah dapat terwujud jika diatur dengan baik oleh Kepala Sekolah yang memiliki figur sebagai pemersatu dan akomodatif terhadap masukan maupun kritik dari personal pendidikan yang lain maupun masyarakat. Selain itu, rasa kebersamaan dan saling melengkapi antara satu guru dengan guru yang lain juga turut berperan dalam menciptakan kerja sama yang kokoh.
6.    Sekolah hendaknya senantiasa melakukan perbaikan sistem kerja. Dengan perubahan yang sistematis dan terarah, sekolah akan bergerak dinamis dan selalu mengikuti perkembangan tuntutan zaman, sehingga produk pendidikan yang dihasilkan pun akan selalu memenuhi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu lembaga pendidikan tidak melakukan perubahan sistem secara berkesinambungan, maka akan berakibat statisnya pelaksanaan pembelajaran dan produk yang dihasilkan pun tidak relevan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
7.    Sekolah hendaknya memfasilitasi guru maupun kepala sekolah untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan seperti seminar pendidikan, loka karya, diklat pengembangan profesi, dan peningkatan kualifikasi pendidikan. Dengan tersedianya kesempatan dan fasilitas untuk meningkatkan kemampuan melalui pendidikan dan pelatihan, maka guru maupun kepala sekolah akan mendapatkan akses informasi terbaru dalam dunia pendidikan yang dapat diterapkan di sekolah yang bersangkutan.
Ketujuh langkah implementasi TQM sebagai sebuah sistem manajemen tersebut minimal akan memberikan wajah baru dunia pendidikan kita. Karena bagaimanapun juga maju mundurnya sebuah sistem pendidikan sangat bergantung kepada komitmen dan konsistensi pihak-pihak yang menjadi bagian dari sistem pendidikan itu sendiri. Jika komitmen dan konsistensi terhadap profesi telah terjaga dengan baik, maka harapan akan adanya sekolah unggulan yang mampu mencetak kader pembangunan bangsa akan dapat terealisasikan.



REFERENSI

Fattah, Nanang. (2003). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.
Rukmana, Ayep. (2005). Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru, Bhineka Karya Winaya edisi 227. Bandung.
Sutopo, dkk. (2006). Pelayanan Prima. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara.
Tjiptono, B. Fandy. (1997). Total Quality Service. Yogyakarta : Andi Offset.
Umaedi. (2000). Pengawasan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kerangka Otonomi Daerah. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.








Picture0056.jpg

BIODATA PENULIS

Nama            :    Nanang Heryanto, S.Pd.I
Unit Kerja    :    SD Negeri 2 Sidaharja
                          UPTD Pendidikan Kec.Lakbok
Organisasi     :    KKG Gugus IV Lakbok
Jabatan Org. :    Ketua
No.HP          :    081323541145
E-Mail          :    enhalien@gmail.com
Blog              :    http://nanangheryanto.blogspot.com
                          http://kkg4lakbok.blogspot.com

 

 






MY SPIRIT AND MOTIVATION


My daughter is my spirit and motivation for survive on my way and my destination... Thanks God You give me a little daughter who can lightening my darkness... God, You so GREAT....




ALIKA FADYA HAYYA HERYANTO PUTRI

IT'S ME...AND MY IDEOLOGY !!!!


MY PRIVACY



Aku tetaplah aku, bukan kau...dia..atau mereka
Biarkan kuretas jalanku...
Kucahayai jejak langkahku...
Ku takkan berhenti mencari dan mencari....
Adanya kebenaran dan kejujuran sejati....

Kau boleh anggap aku kecil, karena memang kekerdilanku...
Kau dapat remehkan aku, karena aku memang bukan siapa-siapa...
Tapi ingatkah kau, sahabat...
Bila yang diam engkau anggap tiada,
Tunggulah keterkejutanmu oleh kediamannya.
Bila yang kecil engkau remehkan,
Tunggulah keterpanaanmu akan kebesarannya.
Bila yang lemah engkau perdayakan,
Maka tunggulah ketertindasanmu oleh kekuatannya.

Renungkan, pahami, lakukan, dan tunggulah
Perubahan akan datang . . .

(M.Enha “the reflector”)